I BERANDA I NASIONAL I INTERNASIONAL I METROPOLITAN I POLHUKAM I SOSDIKBUD I EKOBIS I SLERA I OLAHRAGA I NEWSTV I

Kamis, 31 Maret 2016

Musik/Kam-31-3-2016/20:15-WIB/SEVENTEEN Launching Album Pantang Mundur


Kamis 31 Maret 2016 || 20 : 15 WIB
Kategori : Musik
Penulis   : Lrd Viga 801 / Ri2

SEVENTEEN Launching Album Pantang Mundur

 
8GlobaliTa – Jakarta, Grup Band Seventeen meluncurkan album terbarunya “Pantang Mundur” di KFC kawasan Tugu Tani Gambir Jakarta, Kamis (31/3/2016), di bawah naungan lebel Cuan Musik.

Berproses dalam sebuah band selama 17 tahun bukanlah hal yang mudah. Pasang surut yang terjadi sepanjang perjalanan mereka dalam internal band ataupun industri musik membuat Seventeen mantap . ‘Pantang Mundur’ bagi Seventeen bukan sekedar judul album yang ditempelkan saja, tetapi sebuah semangat besar yang terus membara.

“Jadi kita tidak akan mundur, seperti apapun industry musiknya, ataupun musim musiknya. Selama kawan Seventeen (panggilan untuk fans) masih ada, kita akan selalu pantang mundur,” ujar sang vokalis Ivan.

‘Pantang Mundur’ adalah album ke-6 Seventeen. Penggarapan album ini memakan waktu cukup lama. Dimulai dari tahun 2013 setelah Seventeen menelurkan album ‘5ang Juara’. Sembari mempromosikan album tersebut, mereka telah mencicil menggarap beberapa materi lagu hingga akhirnya merilis single petama ‘Cinta Yang Sembunyi’. Sejak itu lagu demi lagu perlahan diproduksi band asal Yogyakarta tersebut sembari tetap melakoni semua kegiatan off air.

 
Yang membuat proses pengerjaan ‘Pantang Mundur’ terasa jauh berbeda dari album-album sebelumnya adalah keberadaan Music Director. Untuk pertama kalinya Seventeen menyerahkan karya mereka untuk “dikawal” musisi lain. Mereka dibantu Pay Burhan ‘BIP’, Tomo Widayat serta Tama Wicitra. Ketiga orang ini memberikan begitu banyak masukan serta kontribusi yang besar dalam perkembangan musik Seventeen saat ini.

Herman sang gitaris pun menambahkan dirinya secara personal mengakui sangat menikmati sekali penggarapan album tersebut. Ternyata lewat MD itulah Seventeen merasa lebih mudah untuk menuangkan semua isi pikiran mereka dalam karya. Semua dipenuhi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Dari mulai sound, arransemen hingga ke lirik lagu.

Salah satu perubahan besar yang belum pernah dialami Seventeen adalah lahirnya single kedua ‘Aku Gila’. Single tersebut boleh dibilang tak pernah terpikirkan oleh Seventeen sebelumnya. Hal yang mungkin sempat menjadi perdebatan di dalam internal mereka.

 
“Awalnya malah kita sempat skeptic apa iya ini benar, cocok, bisa berhasil dan lain-lain. Tapi setelah proses itu dijalanin kami ngerasanya ini benar-benar penyegaran musik Seventeen yang sesungguhnya. Lebih kepada orang lain yang bisa melihat musik Seventeen lewat sisi berbeda dan menggali potensi itu,” tutur Bani sang pembetot Bass.

“Dan enak juga ternyata di bantu MD. Selama ini kan otak dan ego kita sebagai player itulah yang dituang kedalam lagu. Sekarang kami benar-benar player aja, jadi tinggal hajar,” sambung drummer Andi.

Hingga Seventeen pun  tak segan menerima tantangan untuk mendaur ulang lagu ‘Kegagalan Cinta’ milik sang raja dangdut Rhoma Irama. Bahkan mereka mengemasnya dalam dua versi yang juga turut hadir di album ini. total ada 11 lagu dalam ‘ Pantang Mundur’ yang siap diluncurkan.

Makna 17 Tahun Seventeen
Bicara tentang usia band selama 17 tahun. Terlalu banyak yang telah dilewati. Seperti histori nama Seventeen sendiri, band tersebut memulai perjalanan mereka sejak rata-rata berusia 17 tahun.

Kala itu mereka adalah sekelompok anak muda yang disatukan oleh musik dan berkarya bersama. Pergantian formasi beberapa kali dialami Seventeen bahkan mereka sempat cuti panjang karena kehilangan vokalis sebelumnya. Ditambah lagi perubahan pola pikir dan kehidupan masing-masing personil yang kini bahkan semuanya telah berkeluarga. Semuanya menambah perjalanan mereka berwarna.

Namun Seventeen bangkit dan kembali bisa membuktikan diri bahwa mereka layak mendapatkan tempat dalam industri musik. Bukan hanya itu, industri yang terus berubah pun membuat semangat serta perjalanan mereka tak selalu berjalan mulus. Tapi mereka tak berhenti mencari jalan terbaik yang bisa ditempuh.

Usia 17 tahun bukan lagi waktunya bagi Seventeen untuk bersantai. Umur yang mapan membuat mereka justru harus bertindak lebih banyak agar segala sesuatunya berjalan lancar.

Seventeen bukan hanya sebuah band, tapi juga rumah sekaligus keluarga. Apapun yang masing-masing kerjakan di luar Seventeen, band ini akan menjadi rumah untuk kembali.

“Mungkin aku udah ditakdirkan untuk terus di sini. Begitu juga yang lain. Suka duka sudah kami alami dan itu menguatkan Seventeen sebagai rumah kami. Sampai kapanpun, sampai Tuhan yang memisahkan kita,” tutup Bani.  (8globaliTa – Lrd Viga-801/Riri).



Follow beritanya di www.8globalita.com  link  www.8globalita.blogspot.com  link  @8globalita_801   link   @kk_viga    link   Facebook : Globalita Globalita.

Kirimkan pesan anda ke email kami di : kk_viga@yahoo.co.id atau delapanglobalita@yahoo.co.id

Selasa, 29 Maret 2016

Film/Sel-29-3-2016/23:57-WIB/Andania Suri Tantang Chelsea Shania di Beauty And The Best


Selasa 29 Maret 2016 || 23 : 57 WIB
Kategori : Film
Penulis   : Lrd Viga 801 / Ri2

Andania Suri Tantang Chelsea Shania di Beauty And The Best

 
8GlobaliTa – Jakarta, Sebagai salah satu rumah produksi terbesar di Indonesia, MD Pictures kembali hadir dengan film terbarunya berjudul BEAUTY AND THE BEST. Film yang mengangkat tema remaja ini siap tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 31 Maret 2016.

BEAUTY AND THE BEST bercerita tentang seorang remaja cantik bernama Ira (Andania Suri) yang juga berprofesi sebagai seorang model. Suatu kali Ira mendapat nilai yang lebih tinggi dari Kelly (Chelsea Shania), teman sekelas yang merupakan anak berprestasi di sekolah. Kelly tidak terima dan menuduh Ira telah berbuat curang karena mencontek. Tidak terima dengan tuduhan tersebut, Ira pun menyangkal.

Kelly kemudian memberikan tantangan kepada Ira, jika Ira bisa mengalahkan nilai-nilainya pada saat UAS (Ujian Akhir Semester) maka Kelly percaya kalau Ira tidak mencontek. Ira menerima tantangan tersebut walaupun teman-teman dekatnya ragu akan kemampuannya.

 
Berbagai cara dilakukan Ira untuk bisa mengalahkan Kelly, termasuk mencoba mendekati Aldo (Maxime Bouttier), seorang siswa langganan juara kelas yang juga merupakan sepupu Kelly. Aldo adalah merupakan anak yang pintar namun ia adalah orang yang tidak mudah bergaul.

Berbagai cara dilakukan Ira agar Aldo mau mengajarinya. Hingga akhirnya Aldo mau mengajari Ira dengan syarat jadwal belajar tidak boleh diganggu dengan jadwal modeling, Ira pun menyanggupinya. Sampai suatu saat Ira ketahuan bohong, Aldo kecewa karena Ira tidak mematuhi perjanjian di antara mereka.

Pertemanan keduanya pun menjadi rusak. Aldo merasa dibohongi, ia tidak mau lagi mengajari dan berhubungan dengan Ira. Ira harus berjuang sendiri untuk memenangkan pertaruhannya dengan Kelly. Apakah Ira berhasil mengalahkan Kelly? Lalu bagaimanakah hubungan Ira dengan Aldo? Saksikan kisahnya di film BEAUTY AND THE BEST yang akan tayang di bioskop di seluruh Indonesia, mulai tanggal 31 Maret 2016.

BEAUTY AND THE BEST merupakan film yang diadaptasi dari novel terlaris karya Luna Torashyngu, diproduksi oleh Evry Wanda dan digarap dengan sangat menarik oleh sutradara Andri Sofyansyah. Film yang keseluruhan proses syutingnya dilakukan di Bandung ini juga melibatkan artis besar seperti Ferry Salim dan Didi Riyadi. Selain itu juga menampilkan para pemain muda berbakat seperti Brandon Salim, Agatha Valerie, Akina Fathia, Brichietje Van Hooff, Sifa Hadju dan Unique Pricilla. (8globaliTa – Lrd Viga-801/Riri).


Follow beritanya di www.8globalita.com  link  www.8globalita.blogspot.com  link  @8globalita_801   link   @kk_viga    link   Facebook : Globalita Globalita.

Kirimkan pesan anda ke email kami di : kk_viga@yahoo.co.id atau delapanglobalita@yahoo.co.id

Selasa, 22 Maret 2016

Film/Sel-22-3-2016/23:01-WIB/Starvision Luncurkan Film Ala Beauty and The Beast Raksasa Dari Jogja


Selasa 22 Maret 2016 || 23 : 01 WIB
Kategori : Film
Penulis   : Lrd Viga – 801/Ri2

Starvision Luncurkan Film Ala Beauty and The Beast “Raksasa Dari Jogja”

 
8GlobaliTa – Jakarta, Starvision meluncurkan Film Raksasa Dari Jogja. Sebuah film kisah cinta penu liku ala Beauty and The Beast. Membaca judul Raksasa Dari Jogja selalu timbul pertanyaan, film ini tentang apa koq ada raksasanya?. Mungkin ada benarnya asumsi bahwa pasti ada karakter seperti Raksasa di film ini, dan karakter Raksasa cenderung menjadi karakter dongeng yang berarti ‘ancaman atau bahagia’. Tapi selayaknya The Beast yang buruk rupa dan menyeramkan, malah bisa mengisi ruang kosong di hati Belle, si Beauty.

Film drama romantis ini diangkat dari novel best seller karya Dwitasari. Dalam penulisan skenarionya, problematika cerita di kemas secara lebih mendalam oleh Ben Sihombing. Ketika scenario sudah jadi, Monty Tiwa sebagai sutradara meletakkan idiom yang menarik tentang mesin tik dan computer. Dari sini kita menemukan jabatan antara klasik dan modern, kondisi vintage yang indah dan menginspirasi.

 
“Film Raksasa Dari Jogja menjanjikan kisah klasik penuh kekinian, tentang Bian (Yafi Tesa Sahara - Karina Salim) putri tunggal dari politisi sukses kaya raya (Rey Sahetapy). Dari luar bian nampak seperti Princess, padahal menyimpan kepedihan melihat ibunya yang hanya lulusan SMA bertahan dari KDRT demi ‘kebahagiaan’ putri semata wayangnya. Kebahagian versi seorang ibu yang ingin putrinya serba cukup materi, padahal menciptakan luka di dalam sana,” ujar Chand Parwez Servia, Produser Film Raksasa Dari Jogja, di acara peluncuran Film Raksasa Dari Jogja, di XXI Epicentrum Kawasan Kuningan - Jakarta (22/3/2016).

Untung Bian ketemu Letisha (Sakkila Hanifanisa - Adinda Thomas) sahabat yang kuat, dan mengajak Bian belajar untuk kuat. Semua berubah ketika Letisha berselingkuh dengan pacarnya Prass (Kiki Farel), ditambah lagi Bian harus menghadapi tekanan dari ayahnya, yang memilihkan Bian perguruan tinggi untuk kepentingan portofolionya. Bagi Bian semua yang ada di Jakarta ini sudah cukup.walaupun sebuah peristiwa di halte Trans Jakarta saat berebutan naik bus, Bian sempat tersentuh hatinya oleh kelembutan pria bertubuh Raksasa yang menyelamatkan dengan elegan.

 
Bian akhirnya ke Jogja dan tinggal dengan Bude (Dewi Irawan) dan putranya Kevin (Ridwan Ghany). Sebagai sepupu, Kevin yang sudah punya pacar, Rinta (Sahila Hisyam) memberi perhatian lebih ke Bian, dan sering bikin Rinta cemburu. Kisah Bian berubah ketika dia bertemu kembali dengan Gabriel (Abrar Adrian) si Raksasa penyelamatnya di Trans Jakarta.

Ternyata Gabriel ini terkenal di kampus Bian sebagai biang onar, dan di panggil monster dari Jogja. Padahal, Gabriel sosok penuh kepedulian yang bersiap untuk kuliah S2 di Endinburgh, Scotlandia adalah, ‘Blasteran Genderuwo dan Sinterklas’, ungkap Mas Angkola (Dwi Sasono), bos Gabriel yang eksentrik di Harian Bentara Indonesia.

Raksasa Dari Jogja bukan kisah cinta biasa yang sekedar unyu-unyu, ada permasalahan dan konflik yang mendalam. Bagaimana lapis demi lapis kehidupan Bian harus dikupasnya menuju kedewasaan. Bagaimana Bian belajar untuk berani dan tidak lari lagi. Raksasa Dari Jogja mengajarkan cinta sejati adalah energi yang membuat pelaku-pelakunya tumbuh dan menjadi lebih baik, tidak sekedar mengajak hati kita berkelana ke wilayah romantisme yang menghangatkan hati, tapi sejuk memberi kesegaran jiwa melalui aura positif, hingga pada akhirnya Bian memutuskan kembali untuk ke Jakarta.

Bagi saya, Raksasa Dari Jogja adalah pencapaian terbaik dari Monthy Tiwa setelah test Pack. Monthy apik mendeliver pergulatan bathin yang  begitu berat dengan pendekatan yang santai, lebih banyak mengajak kita untuk senyum dan tawa, dari pada mengerutkan kening. Salut atas karya novel Dwitasari, scenario Ben Sihombing, dan sentuhan apik editing Cesa David Luckmansyah.

Sebuah lagu mahakarya ciptaan Arda yang dinyanyikanArda “NAFF” dan Tantri “KOTAK” berjudul “Pelabuhan Terakhir” seakan diciptakan dan menunggu film ini, pas untuk menebalkan mood Raksasa Dari Jogja.

Secara khusus Monthy Tiwa bersama Putri Hermansjah juga membuatkan video klip lagu tentang komitmen cinta ini. Musik yang dikerjakan oleh Ganden Bramanto berhasil mengisi pergerakan emosi yang naik turun dan kadang liar, kadang menyentuh dan penuh keharuan.

Menyutradarai film yang diadaptasi dari sebuah novel adalah sesuatu hal yang sedang “booming” di industri perfilman tanah air.

Sedikit orang yang menyadari tingkat kesulitan yang ada dalam menjalankan hal ini. Pertama, kita sudah mendapatkan lawan yang tangguh dalam bentuk ekspektasi para pembaca novelnya. Kedua adalah bagaimana kita sebagai pembuat film harus bisa menggali sesuatu yang lebih. Sesuatu yang “ada” namun sekaligus “tidak ada” di novel tersebut.

“Raksasa Dari Jogja adalah karya terbaru saya bersama Starvision. Di tangan dingin seorang produser seperti Bapak Chand Parwez dan penulis handal seperti Ben Sihombing, saya hampir tidak menemukan kesulitan dalam menjawab dua tantangan diatas tersebut,” ujar Sutradara Monthy Tiwa

“Sebuah cerita manis ciptaan novelis muda berbakat, Dwitasari telah berhasil kami terjemahkan ke dalam bahasa film yang, menurut saya, akan dapat memberikan sesuatu yang baru kepada pembaca novelnya dan kepada calon penonton kami yang belum pernah baca novel tersebut. Dengan bangga kami mempersembahakn karya ini kepada penonton film tanah air. Semoga bisa menghibur dan berkesan di hati para penikmatnya,” tambah Monthy.

“Raksasa Dari Jogja adalah debut pertama saya dalam dunia penulisan novel. Novel ini saya tulis saat saya berumur 16 tahun, ditengah-tengah padatnya sktivitas menjelang UN, tes masuk SNMPTN, dan tes masuk SIMAK UI. Novel ini tidak akan lahir tanpa campur tangan pihak Plotpoint yaitu Gina S. Noer, Mba Amelia Oktavia, Mbak Fitri, Mas Salma Aristo, dan Mas Arif yang merupakan editor novel ini. para tokoh inspriratif tersebut mengenalkan saya dengan penulisan novel melalui beasiswa yang Plotpoint berikan pada saya. Beasiswa yang saya tekuni adalah beasiswa penulisan novel dasar bersama Clara Ng,” tutur Penulis Novel, Dwitasari. (8globalita – Lrd Viga 801/Ri2).


Synopsis

Bian (Karina Salim), seperti punya segalanya. Wajah cantik, rumah elit di Jakarta dan pacar yang tampan. Realitanya, sungguh berbeda. Sejak kecil, Bian selalu hidup dalam ketakutan. Sang Papa (Ray Sahetapy) yang dikenal orang sebagai seorang politikus terhormat, sering melakukan KDRT terhadap Mama (Unique Priscilla).

Bian memergoki pacarnya, Pras (Kiki Farel), berselingkuh dengan Letisha (Adinda Thomas), sahabat Bian sejak kecil. Bian memutuskan pergi meninggalkan rumah, dan kuliah di Jogja.

Bian yang tinggal di rumah Bude (Dewi Irawan) bersama Kevin (Ridwan Ghany) sepupunya, berubah jadi gadis pendiam dan selalu menutup diri. Dia selalu menolak ketika Rinta (Sahila Hisyam) pacar Kevin bermaksud untuk mengenalkan Bian dengan teman-teman cowoknya.

Hingga Bian bertemu dengan seorang pemuda bertubuh raksasa bernama Gabriel (Abrar Adrian) di sudut sepi kampusnya. Bian mengenali Gabriel yang pernah menolongnya di Trans Jakarta. Pertemuan berkesan ini membuat Bian minta informasi dari teman kuliahnya, Vanessa (Stella Conelia).

Pertolongan Vanessa membuat Bian tahu kalau Gabriel juga bekerja sebagai jurnalis surat kabar. Setelah selesai membaca artikel demi artikel yang ditulis Gabriel, Bian jadi semakin kagum dan jatuh hati .

Sementara Gabriel sebenarnya sedang berusaha mengejar mimpinya melanjutkan kuliah S2 di Eropa. Dengan bantuan Mas Angkola (Dwi Sasono), jenius eksentrik yang juga pemilik surat kabar tempatnya bekerja, akhirnya Gabriel mendapatkan beasiswa. Jatuh cinta adalah hal terakir dalam pikirannya, tapi takdir berkata lain. Ketulusan dan kelembutan hati Bian, membuat Gabriel yang sering di panggil monster dari Jogja membuka hatinya.

Tapi trauma masa lalu Bian membuatnya sering salah paham dengan tindakan-tindakan Gabriel.

Puncaknya ketika Kevin berbekal rekaman video handphone, menuduh Gabriel sebagai tukang main perempuan seperti Papa, tepat di saat datang kabar kalau Mama masuk rumah sakit karena Papa. Luka masa lalu Bian pun kembali terbuka. Apakah Bian akan memperjuangkan cinta mereka, atau membiarkannya sirna dan hilang begitu saja?.

Segera tonton filmnya di bioskop di seluruh tanah air, tayang mulai 31 Maret 2016


Follow beritanya di www.8globalita.com  link  www.8globalita.blogspot.com  link  @8globalita_801   link   @kk_viga    link   Facebook : Globalita Globalita.

Kirimkan pesan anda ke email kami di : kk_viga@yahoo.co.id atau delapanglobalita@yahoo.co.id

Rabu, 16 Maret 2016

Film/Rab-16-3-2016/19:32-WIB/OMI Syukuran Produksi Film Surga Yang Terluka


Rabu 16 Maret 2016 || 19 : 32 WIB
Kategori : Film
Penulis   : Lrd Viga 801 / Ri2

OMI Syukuran Produksi Film Surga Yang Terluka


8GlobaliTa - Jakarta, Onasis Media Intertainmen (OMI) melaksanakan syukuran Produksi Film “Surga Yang Terluka”  Rabu (16/03/2016), yang merupakan produksi film pertamanya untuk layar lebar. OMI sebelumnya memproduksi film-film televisi dan fragmen-fragmen non-drama di televisi swasta.

OMI melihat bahwa cerita dan skenario yang ditawarkan penulis dan sutradara sangat menarik. Cerita film menginspirasi, mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, serta mampu memberikan hiburan buat keluarga, selalu menarik untuk diproduksi. OMI akan berpegang pada filosofi semangat seperti itu, bahwa membangun nilai-nilai dalam keluarga sangatlah penting.

Bagi OMI, cerita atau drama tentang keluarga selalu menarik. Relasi dalam sebuah keluarga bisa menampilkan beragam cerita dari berbagai sudut pandang. OMI melihat bahwa betapa penting membangun pondasi nilai-nilai dalam keluarga. Memang sangat sederhana melihatnya, namun menjadi penting ketika melihat sebagai bangunan besar, yaitu kehidupan. OMI ingin berbagi pengalaman cerita tentang nilai-nilai kemanusiaan kepada penonton film.

 
Menjadi kebanggaan tersendiri buat Onasis Media Intertaimen (OMI) mengajak aktris senior Christine Hakim bermain di film “Surga Yang Terluka”. Mengingat sejak 2010 (Eat Pray Love), Christine Hakim secara eksklusif bermain di satu judul film tiap tahun. OMI akan memproduksi dan berencana mengedarkan Surga di tahun 2016 ini.

“Syiar itu tidak melulu melalui khotbah. Film jauh lebih berdampak menyebarkan nilai-nilai positif kepada penonton. Film ini secara sederhana ingin memperlihatkan nilai-nilai dalam keluarga yang sering terabaikan. Dan sering fatal dampaknya. Hampir masalah besar yang muncul, awalnya selalu dari keluarga,” jelas Christine Hakim, setelah takhir bermain di film Guru Bangsa Tjokroaminoto.

Keterlibatannya di film Surga Yang Terluka juga tidak terlepas dari tokoh dan karakter yang ia perankan, yaitu sebagai seorang ibu “kelas bawah” yang berjuang membesarkan tiga orang anak.

 
“Tokoh ibu ini yang sangat menarik. Boleh dibilang, saya mesti mengeksplore lagi peran-peran yang pernah saya mainkan supaya tdak stereotype. Dan lawan main saya, anak-anak muda ini. Ini yang menarik “ ungkap Christine menambahkan.

OMI mengajak bintang-bintang yang pernah bermain bersama Christine Hakim, diantaranya Meriza Febriani. Keduanya pernah bermain di film ‘Sang Kyai’. Lalu Ade Firman Hakim, meskipun tdak pernah dalam scene yang sama, bermain di Tjokroaminoto sebagai Muso. OMI melihat potensi dan memberikan kesempatan pada kedua pemain menjadi lawan main aktris pengoleksi enam Piala Citra ini.

OMI juga mempercayakan penyutradaraan kepada Amin Ishaq. Sutradara muda yang telah menyutradarai belasan judul sinetron. OMI melihat totalitas keterlibatan sutradara dalam menuangkan ide cerita menjadi scenario film juga mempermudah penulis scenario Henny Surya merealisasikan ide-ide produser dan Christine Hakim sendiri.

Film “Surga Yang Terluka” akan memulai produksinya minggu ketiga di bulan Maret 2016 ini. Lokasi pengambilan gambar juga dipilih tempat-tempat menawan yang saat ini menjadi destinasi wisata, Yogyakarta dan Gunung Kidul.

“Sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di Gunung Kidul. Area eksotiknya sangat berlimpah. Ini yang mau kita juga eksplore. OMI berharap Gunung Kidul nantinya bisa menjadi tujuan wisata film setelah penonton menyaksikan “Surga Yang Terluka”. Titik-titik lokasi pengambilan gambar bisa dikenang seperti bangka Belitung di film Laskar Pelangi,” jelas dua produser “Surga Yang Terluka”, Faiz Alkaff dan H. Imam Suharyadi.

Sayangnya, film yang mengemas pesan etika, moral, pendidikan dan religi ini, dicederai oleh sikap panitia penyelenggara press conference yang membedakan antara media  satu dengan media lainnya. Sikap yang mengesankan upaya pilih-pilih media ini merupakan pelecehan profesi wartawan. ((8globaliTa – Lrd Viga 801/Ri2).


 
Sinopsis

Film “Surga Yang Terluka” bercerita tentang Hartini yang kehilangan pegangan hidupnya sepeninggalan suaminya. Ia harus membesarkan tiga anaknya, Banyu, Gendis dan Satrio. Tak banyak warisan yang ditinggalkan suami, rumah reyot, sepeda tua dan sepetak sawah. Beruntung masih ada Parto, adik suami Hartini yang banyak membantunya.

Hartini sukses membesarkan anak-anaknya. Seperti janji saat mereka kecil, yaitu ingin memberi kebahagiaan orangtua dan orang-orang lain. Semua terwujud. Namun kerinduan tak melengkapi kebahagiaan Hartini. Sementara waktu tidak pernah bisa menunggu. Hartini tak kuasa melawan waktu……

Sang waktu yang akan mengambil semua rindu !


Onasis Media Intertaimen (OMI) mempersembahkan Film “Surga Yang Terluka” yang di bintangi Christine Hakim berperan sebagai Hartini, Meriza Febriani seagai Gendis dan Ade Firman Hakim sebagai Banyu.

Serta didukung Tim Marketing SINEMATA, Penata Busana SULIYANI, Penata Suara MANGKIL HASAN, Line Produser JATI NOVENDAR, Penata Gambar DODY CHANDRA, Penata Peran ENDRO BAGUS, Penata Kamera FAHMI J SAAD, Penata Art JB ADHI NUGROHO, Skenario HENNY SURYA, Penata Rias NUNUNG NURSEKHA, Manager Produksi JEFRY FAUZI, Eksekutif Produser ABDULLAH FAIZ ALKAFF, H. IMAM SUHARYADI, Produser Pelaksana MARZUKI IBRAHIM, ABDULLAH FAIZ ALKAFF, Sutradara IMAM ISHAQ


Follow beritanya di www.8globalita.com  link  www.8globalita.blogspot.com  link  @8globalita_801   link   @kk_viga    link   Facebook : Globalita Globalita.

Kirimkan pesan anda ke email kami di : kk_viga@yahoo.co.id atau delapanglobalita@yahoo.co.id